Tepukan di bahu dari nenek
“Dulu saya berteriak memanggil Ayu sampai suara saya habis. Sekarang cukup saya tepuk bahunya, lalu dia tersenyum.”
Awal perjalanan
Orang tua Ayu bekerja di luar kota, sehingga Nenek Tini yang mengasuhnya sehari-hari. Nenek terbiasa memanggil cucu-cucunya dari dapur. Ayu tidak pernah datang. Tetangga bilang Ayu "budek" dan "susah diatur". Nenek ikut percaya, dan sering kesal.
Pengalaman di sekolah
Saat mengantar Ayu ke sekolah, Nenek Tini melihat guru tidak pernah berteriak. Guru menyentuh bahu anak, melambai, atau mengedipkan lampu kelas bila ingin semua anak memperhatikan. Guru mengajari Nenek cara yang sama, dan beberapa isyarat dasar: makan, mandi, tidur, nenek, sayang.
Guru juga mengingatkan soal keamanan. Ayu tidak mendengar motor dari belakang. Nenek dan Ayu berlatih menyeberang dengan aturan menoleh tiga kali, dan Ayu memakai kartu kecil di tasnya berisi nomor telepon ibunya.
Perubahan
Rumah Nenek Tini kini lebih tenang. Nenek tidak lagi berteriak, dan Ayu tidak lagi merasa dimarahi tanpa tahu sebabnya. Mereka punya isyarat rahasia untuk "sayang nenek". Ayu juga berani bermain di teras karena nenek sudah memasang bel dengan lampu di pintu.
Tetangga yang dulu mengejek kini ikut belajar isyarat "terima kasih" dari Ayu.
Pesan untuk orang tua lain
Kakek dan nenek bisa menjadi pendamping yang hebat. Libatkan mereka dalam kegiatan sekolah, dan ajari mereka cara berkomunikasi yang sama dengan guru.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.