(021) 8400011 [email protected] Senin–Jumat, 07.00–14.00
Cari
Kegiatan di rumah 2 menit baca

Menjaga keamanan anak: di rumah, di jalan, dan di internet

Kebiasaan aman yang bisa diajarkan sejak kecil, disesuaikan dengan cara anak berkomunikasi.

Ilustrasi perisai dengan tanda centang di samping anak dan orang tua bergandengan

Anak penyandang disabilitas kadang lebih sulit mengenali bahaya atau menyampaikan bila ada yang tidak beres. Karena itu, kebiasaan aman perlu diajarkan dengan cara yang jelas, berulang, dan sesuai cara anak berkomunikasi.

Di rumah

  • Kunci dan simpan obat, pembersih lantai, korek api, dan benda tajam di tempat tinggi.
  • Pasang penutup stopkontak bila ada anak kecil.
  • Anak tunarungu tidak mendengar alarm atau ketukan. Pertimbangkan bel atau alarm dengan lampu berkedip, dan sepakati tanda bahaya dengan sentuhan atau isyarat.
  • Latih rencana darurat: ke mana keluar bila ada kebakaran atau gempa, siapa yang dihubungi.

Di jalan

  • Ajarkan menyeberang bersama orang dewasa: berhenti, lihat kanan, lihat kiri, lihat kanan lagi.
  • Anak tunarungu tidak mendengar klakson. Latih kebiasaan selalu menoleh, terutama di gang dan tempat parkir.
  • Pakai kartu identitas kecil di tas atau gelang: nama, nomor telepon orang tua, dan cara berkomunikasi dengan anak ("Saya tunarungu, mohon bicara dengan tulisan").
  • Ajarkan anak ke siapa meminta tolong bila terpisah: petugas berseragam, kasir toko, atau ibu yang membawa anak.
  • Foto anak setiap kali bepergian ke tempat ramai, supaya Anda ingat pakaian yang dikenakannya.

Tubuhku milikku

Anak perlu tahu bahwa tubuhnya miliknya sendiri. Ajarkan dengan bahasa sederhana dan gambar:

  • Nama bagian tubuh, termasuk bagian pribadi, dengan kata yang benar.
  • Aturan sentuhan: bagian yang tertutup baju dalam tidak boleh disentuh atau dilihat orang lain, kecuali saat dibersihkan orang tua atau diperiksa dokter dengan orang tua hadir.
  • Boleh berkata "tidak", lalu pergi dan cerita kepada orang tua atau guru.
  • Tidak ada rahasia tentang sentuhan. Rahasia yang membuat tidak nyaman harus diceritakan.

Ulangi secara rutin dengan cara yang dipahami anak: isyarat, gambar, atau permainan peran. Perhatikan perubahan perilaku yang tiba-tiba, misalnya ketakutan pada orang atau tempat tertentu. Bila ada kekhawatiran, bicarakan dengan guru BK atau kepala sekolah, atau hubungi layanan SAPA 129 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (telepon 129, WhatsApp 08111-129-129).

Di internet

  • Pasang kontrol orang tua di ponsel dan aplikasi video.
  • Letakkan perangkat di ruang keluarga, bukan di kamar tertutup.
  • Ajarkan tidak membagikan nama lengkap, alamat, nama sekolah, dan foto kepada orang yang tidak dikenal.
  • Sepakati aturan waktu layar dan tempel di dinding dengan gambar.
  • Ajak anak bercerita tentang apa yang ia tonton dan dengan siapa ia mengobrol.

Ingat: anak yang percaya bahwa ia bisa bercerita apa saja kepada orang tuanya, tanpa dimarahi, adalah anak yang lebih terlindungi.

Sumber

  1. UNICEF Indonesia, panduan perlindungan anak
  2. Pengalaman guru SLB Budi Daya

Artikel ini berisi informasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh dokter atau tenaga kesehatan.

Bacaan terkait

Semua artikel