Magang pertama di binatu dekat rumah
“Pemilik binatu bilang lipatan Tegar paling rapi. Saya tidak pernah sebangga itu.”
Awal perjalanan
Tegar, delapan belas tahun, menyukai keteraturan. Ia selalu merapikan sandal di teras dan menyusun piring di rak sesuai ukuran. Pak Slamet, seorang tukang bangunan, sering berpikir anaknya tidak akan bisa bekerja.
Pengalaman di sekolah
Di kelas keterampilan, guru melihat kelebihan Tegar: teliti, sabar, dan senang dengan pekerjaan berulang. Tegar belajar melipat pakaian dengan papan lipat, memilah pakaian menurut warna, dan memasukkan pakaian ke plastik dengan rapi.
Guru bertanya kepada para orang tua apakah ada yang mengenal usaha di sekitar rumah yang mau menerima murid magang. Pak Slamet memberanikan diri berbicara dengan tetangganya, pemilik binatu kiloan.
Perubahan
Tegar magang dua hari seminggu selama tiga bulan, didampingi guru pada minggu-minggu pertama. Guru membuat daftar tugas bergambar yang ditempel di dinding binatu. Pemilik binatu belajar memberi perintah satu per satu, dengan kalimat pendek.
Di akhir masa magang, pemilik binatu menawarkan Tegar bekerja paruh waktu dengan upah. Tegar kini berangkat sendiri dengan berjalan kaki, membawa kartu identitas dan nomor telepon ayahnya.
Pesan untuk orang tua lain
Kesempatan kerja sering datang dari lingkungan terdekat. Kenalkan anak kepada tetangga dan pemilik usaha, dan ceritakan kelebihannya. Banyak orang mau membantu asalkan tahu caranya.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.