Hari pertama, ibu yang menunggu di gerbang
“Saya menunggu di gerbang empat jam, siap menjemput kalau Arya menangis. Dia tidak menangis. Sayalah yang menangis.”
Awal perjalanan
Arya sebelumnya bersekolah di TK umum. Ia sering duduk sendirian dan pulang dengan wajah sedih. Setelah asesmen dan diskusi panjang dengan suaminya, Bu Yanti memutuskan memindahkan Arya ke SLB. Keputusan itu tidak mudah. Beberapa kerabat bertanya, "Kenapa dimasukkan ke sana?"
Pengalaman di sekolah
Sebelum hari pertama, guru menyarankan Bu Yanti mengajak Arya berkunjung dua kali: melihat kelas, bermain di halaman, dan berkenalan dengan guru. Guru juga memberi foto ruang kelas dan wajah gurunya untuk ditunjukkan di rumah.
Di hari pertama, Arya masuk kelas sambil menggenggam foto itu. Bu Yanti duduk di bangku dekat gerbang. Setiap kali pintu kelas terbuka, jantungnya berdebar.
Perubahan
Saat jam pulang, Arya keluar sambil bergandengan dengan teman barunya. Ia membawa gambar matahari yang ia warnai sendiri. Di rumah, untuk pertama kalinya ia bercerita tentang sekolah dengan semangat, dengan kata-kata dan gerakan tangannya.
Sekarang Arya sudah di kelas empat. Bu Yanti tidak lagi menunggu di gerbang. Ia justru menjadi pengurus paguyuban orang tua kelas, dan sering menemani orang tua baru di hari pertama anak mereka.
Pesan untuk orang tua lain
Siapkan anak sebelum hari pertama, lalu percayakan kepada guru. Anak sering lebih berani dari yang kita bayangkan, terutama bila ia merasa diterima.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.