Teh manis dan cerita di paguyuban orang tua
“Di rumah saya merasa sendirian. Di bangku tunggu sekolah, saya menemukan saudara.”
Awal perjalanan
Bu Ratna pindah dari luar kota. Ia tidak punya keluarga di Jakarta, dan suaminya sering bertugas jauh. Zahra membutuhkan banyak perhatian, dan Bu Ratna merasa lelah, sendiri, dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa.
Pengalaman di sekolah
Setiap hari Bu Ratna menunggu Zahra di bangku dekat gerbang. Lama-lama ia mengenal ibu-ibu lain yang juga menunggu. Awalnya hanya berbagi gorengan dan teh manis. Kemudian mereka mulai berbagi cerita: tentang terapi, tentang BPJS, tentang malam-malam tanpa tidur.
Sekolah melihat semangat itu dan menawarkan ruangan untuk pertemuan rutin sebulan sekali. Kadang guru atau tamu dari puskesmas datang memberi materi singkat. Kadang mereka hanya mengobrol.
Perubahan
Paguyuban itu kini punya grup percakapan sendiri. Bila ada ibu yang anaknya sakit, yang lain bergantian membawakan makanan. Bila ada yang bingung mengurus Kartu Penyandang Disabilitas, yang sudah berhasil mengajarinya langkah demi langkah. Mereka juga mengadakan arisan kecil dan sesekali piknik bersama anak-anak.
Bu Ratna kini menjadi salah satu penggerak paguyuban. Ia lebih tenang, dan Zahra pun merasakannya.
Pesan untuk orang tua lain
Anda tidak harus menanggung semuanya sendiri. Sapa orang tua di sebelah Anda di bangku tunggu. Mungkin ia sedang menunggu seseorang untuk diajak bicara.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.