Lulus SMPLB, Nadia ingin menjadi desainer
“Saya dulu memarahi Nadia karena buku tulisnya penuh gambar. Sekarang gambar itu yang membuka jalannya.”
Awal perjalanan
Sejak kecil, Nadia lebih suka menggambar daripada mengerjakan soal. Setiap halaman belakang buku tulisnya penuh gambar baju, tas, dan wajah orang. Pak Andi khawatir. Ia bertanya-tanya, apa yang bisa dikerjakan anaknya kelak, dengan pendengaran yang sangat terbatas.
Pengalaman di sekolah
Guru seni di sekolah melihat bakat Nadia. Ia memberi Nadia tugas membuat poster untuk kegiatan sekolah, lalu mengajarinya menggambar di tablet milik sekolah. Guru kelas juga membantu Nadia membuat portofolio sederhana: kumpulan gambar terbaiknya, difoto rapi, dengan keterangan singkat.
Saat kelas sembilan, sekolah mengundang beberapa alumni Tuli yang sudah bekerja. Salah satunya bekerja di percetakan sebagai penata letak. Nadia menatapnya lama, lalu bertanya dengan isyarat, "Bagaimana caranya?"
Perubahan
Setelah lulus SMPLB, Nadia melanjutkan ke SMALB sambil mengikuti kursus desain grafis akhir pekan yang menyediakan juru bahasa isyarat. Ia mulai menerima pesanan kecil: desain undangan ulang tahun dan logo warung tetangga.
Pak Andi kini memajang poster pertama buatan Nadia di ruang tamu.
Pesan untuk orang tua lain
Perhatikan apa yang membuat anak bersemangat, meski awalnya tampak seperti kebiasaan yang mengganggu. Bakat sering bersembunyi di halaman belakang buku tulis.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.