Kartu "istirahat" di supermarket
“Fajar bukan sedang mempermalukan saya. Dia sedang kewalahan, dan dia belum punya kata untuk mengatakannya.”
Awal perjalanan
Setiap kali diajak ke supermarket, Fajar menjerit dan berguling di lantai. Orang-orang menatap. Ada yang berkomentar, "Anaknya dimanja, sih." Bu Dewi pulang dengan wajah panas dan akhirnya memilih tidak pernah lagi membawa Fajar keluar rumah.
Pengalaman di sekolah
Bu Dewi menceritakan hal ini kepada guru kelas. Guru meminta Bu Dewi mencatat selama seminggu: kapan Fajar mulai gelisah, apa yang terjadi sebelumnya, dan apa yang terjadi sesudahnya. Dari catatan itu terlihat polanya. Fajar selalu mulai gelisah di dekat lorong yang bising dan terang, terutama saat sudah lapar.
Guru memberi Fajar kartu bergambar "istirahat" dan melatihnya di kelas. Bila Fajar menyerahkan kartu, ia boleh duduk di sudut tenang sebentar. Di rumah, Bu Dewi membuat jadwal bergambar untuk pergi belanja: makan dulu, naik motor, masuk toko, ambil tiga barang, bayar, pulang.
Perubahan
Kunjungan pertama hanya sepuluh menit, di toko kecil yang sepi. Fajar memegang daftar bergambar dan mencentang setiap barang. Sekali ia menyerahkan kartu "istirahat". Bu Dewi mengajaknya duduk di luar toko lima menit, lalu mereka masuk lagi.
Kini Fajar bisa ikut berbelanja di supermarket dekat rumah. Ia masih membawa kartunya, dan masih memakainya sesekali. Tantrum besar jarang terjadi.
Pesan untuk orang tua lain
Cari pesan di balik perilaku anak. Siapkan anak sebelum pergi, mulai dari kunjungan singkat, dan beri anak cara yang aman untuk berkata "aku butuh jeda".
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.