Kakek, cucu, dan kebun cabai di atap rumah
“Kami jarang bicara panjang. Tapi setiap pagi kami menyiram tanaman bersama, dan itu sudah cukup.”
Awal perjalanan
Setelah ibu Rizki bekerja kembali, Kakek Harun yang menemani Rizki sepulang sekolah. Kakek bingung. Rizki jarang bicara, dan lebih sering menyendiri dengan ponsel. Kakek merasa tidak tahu harus berbuat apa dengan cucunya.
Pengalaman di sekolah
Di pertemuan orang tua, guru bercerita tentang kebun sekolah. Anak-anak belajar menanam, menyiram, dan memanen sayuran. Guru menyebut bahwa kegiatan seperti ini melatih tanggung jawab, urutan kerja, dan kesabaran. Rizki, kata guru, termasuk anak yang paling rajin menyiram.
Kakek Harun, yang dulu bertani di kampung, langsung tertarik. Guru menyarankan Kakek mencoba kegiatan yang sama di rumah, dengan langkah sederhana dan jadwal tetap.
Perubahan
Kakek dan Rizki membuat kebun kecil di atap rumah dengan ember bekas dan polybag. Mereka menanam cabai, tomat, dan kangkung. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Rizki menyiram tanaman. Setiap sore, Kakek mengajarinya satu pekerjaan baru: mencabut rumput, memberi pupuk, mengikat batang tomat.
Waktu bermain ponsel berkurang dengan sendirinya. Saat cabai pertama dipanen, Rizki membawanya ke sekolah untuk ditunjukkan kepada guru. Ibunya bilang, Rizki kini lebih sering bercerita, dan sebagian besar ceritanya tentang kebun.
Pesan untuk orang tua lain
Kegiatan yang Anda sukai bisa menjadi jembatan dengan anak. Ajak anak bekerja bersama, dengan tugas kecil yang jelas dan diulang setiap hari.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.