Kakak yang tidak mau selalu menjadi penerjemah
“Saya terlalu bergantung pada Kirana. Saya lupa dia juga masih anak-anak.”
Awal perjalanan
Kirana, kakak Bima, belajar isyarat paling cepat di rumah. Ia menjadi "penerjemah" keluarga: di rumah, di warung, di acara keluarga, bahkan saat ibunya bicara dengan dokter. Bu Wulan merasa terbantu dan bangga.
Suatu hari, wali kelas Kirana di sekolah dasar menelepon. Kirana sering mengantuk dan nilainya turun. Di rumah, Kirana menangis. "Aku capek, Bu. Aku juga mau main."
Pengalaman di sekolah
Bu Wulan menceritakan hal ini kepada guru Bima. Guru mengajak Bu Wulan ikut kelas isyarat orang tua, dan menyarankan pembagian peran di rumah: Kirana boleh membantu, tetapi bukan satu-satunya jembatan bagi Bima. Guru juga memberi kartu komunikasi bergambar untuk dipakai Bima saat berbelanja.
Perubahan
Bu Wulan dan suaminya kini bisa bercakap sederhana dengan Bima. Mereka menyisihkan waktu setiap Sabtu sore hanya untuk Kirana: berdua ke taman atau membeli es krim. Kirana kembali menikmati masa anak-anaknya, dan hubungannya dengan Bima justru lebih dekat karena tidak lagi terasa sebagai tugas.
Bima juga lebih mandiri. Dengan kartu komunikasi dan tulisan sederhana, ia bisa membeli jajan sendiri di warung dekat rumah.
Pesan untuk orang tua lain
Saudara kandung bisa menjadi sahabat terbaik bagi anak berkebutuhan khusus, asalkan mereka tidak dijadikan pengasuh. Beri mereka waktu khusus dan dengarkan perasaan mereka.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.