Isyarat "lagi" di meja makan
“Selama enam tahun saya menunggu Dimas memanggil saya. Ternyata ia sudah lama ingin bicara, hanya kami yang belum memberinya bahasa.”
Awal perjalanan
Dimas sering marah sampai melempar barang. Pak Joko dan Bu Ani mengira ia nakal. Mereka mencoba membujuk, memarahi, bahkan membawa Dimas ke orang pintar. Tidak ada yang berubah. Belakangan mereka sadar, Dimas marah karena tidak ada yang mengerti keinginannya.
Pengalaman di sekolah
Di sekolah, guru kelas memakai isyarat sejak hari pertama. Ia memberi Dimas cara untuk meminta: "minum", "toilet", "tolong", "lagi". Dalam beberapa minggu, lemparan barang di kelas berkurang. Guru lalu meminta orang tua memakai isyarat yang sama di rumah, dan memberi kertas berisi sepuluh isyarat pertama.
Bu Ani menempelkan kertas itu di pintu kulkas. Pak Joko, yang pulang kerja larut malam, belajar dari video yang direkam guru di ponsel.
Perubahan
Suatu malam, saat makan, Dimas menyodorkan piringnya kepada ayahnya, lalu membuat isyarat "lagi". Pak Joko terdiam. Itu pertama kalinya anaknya meminta sesuatu kepadanya dengan bahasa, bukan dengan tangisan. Bu Ani menangis di dapur.
Sekarang Dimas menguasai ratusan isyarat. Ia mulai belajar menulis namanya sendiri dan nama anggota keluarganya. Rumah menjadi lebih tenang, karena semua orang bisa saling mengerti.
Pesan untuk orang tua lain
Banyak perilaku yang tampak seperti kenakalan sebenarnya adalah rasa frustrasi karena tidak bisa berkomunikasi. Beri anak bahasa, dan belajarlah bahasa itu bersamanya.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.