Dari belajar tengkurap sampai menari di panggung
“Dokter bilang Kiki akan berkembang lebih lambat. Tidak ada yang bilang kepada saya betapa banyak tawa yang akan ia bawa.”
Awal perjalanan
Beberapa jam setelah Kiki lahir, dokter menyampaikan bahwa Kiki kemungkinan mengalami sindrom Down. Pemeriksaan kromosom memastikannya. Bu Nur menangis berhari-hari. Ia takut, bingung, dan merasa sendirian. Kiki juga harus menjalani pemeriksaan jantung sejak bayi.
Pengalaman di sekolah
Sebelum masuk sekolah, Kiki rutin menjalani fisioterapi di rumah sakit untuk menguatkan ototnya. Ia baru bisa berjalan di usia hampir tiga tahun. Di kelas TKLB, Kiki belajar lewat lagu, gerak, dan isyarat sederhana. Guru memperhatikan Kiki paling bersemangat saat kegiatan musik.
Guru juga mengenalkan Bu Nur kepada orang tua murid lain yang anaknya juga dengan sindrom Down. Mereka saling bertukar cerita tentang terapi, makanan, dan cara mengajari anak makan sendiri.
Perubahan
Di akhir tahun ajaran, kelas Kiki menampilkan tari sederhana di acara sekolah. Kiki tidak selalu tepat gerakannya, tetapi ia tersenyum sepanjang lagu dan melambai ke arah ibunya. Penonton ikut bertepuk tangan mengikuti irama.
Kiki kini bisa makan sendiri, menyebut nama teman-temannya, dan memakai beberapa kata bersama isyarat. Ia juga senang membantu membereskan mainan di kelas.
Pesan untuk orang tua lain
Beri diri Anda waktu untuk bersedih, lalu carilah teman seperjalanan. Mulailah stimulasi sedini mungkin, dan jangan lupa menikmati anak Anda apa adanya.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.