Ayah yang dulu malu mengantar ke sekolah
“Yang perlu sekolah dulu ternyata saya, bukan Bagas.”
Awal perjalanan
Selama dua tahun pertama Bagas di SLB, Pak Dedi tidak pernah sekali pun mengantarnya. Ia malu bila teman kerjanya tahu. Saat ada yang bertanya, ia hanya menjawab, "Anak saya sekolah di dekat rumah." Istrinya yang mengurus semuanya sendiri.
Pengalaman di sekolah
Suatu hari istrinya sakit, dan Pak Dedi terpaksa mengantar Bagas. Di gerbang sekolah, Bagas berlari ke arah gurunya dan menunjuk ayahnya dengan bangga. Guru menyambut Pak Dedi dan mengajaknya melihat kelas sebentar. Ia melihat Bagas menyusun balok sesuai warna, menyapa teman-temannya, dan membagikan buku.
Di pertemuan orang tua berikutnya, Pak Dedi datang. Ia duduk di dekat beberapa ayah lain. Ternyata mereka pernah merasakan hal yang sama.
Perubahan
Pak Dedi kini mengantar Bagas setiap Senin dan Kamis. Ia ikut kelompok ayah di paguyuban orang tua, yang sesekali berkumpul untuk memperbaiki kursi kelas atau mengecat pagar sekolah. Di kantornya, ia mulai bercerita tentang Bagas dan memasang foto Bagas di meja kerjanya.
Bagas tampak lebih bersemangat di hari-hari ayahnya mengantar. Ia mulai belajar mengucapkan "Ayah" dengan jelas.
Pesan untuk orang tua lain
Rasa malu, sedih, atau marah adalah perasaan yang wajar dan tidak perlu disembunyikan. Bicarakan dengan orang tua lain. Anak kita membutuhkan kehadiran kita lebih dari apa pun.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.