Ayah yang belajar isyarat di sela antrean ojek
“Dulu saya hanya bisa mengangguk kalau Rafi bercerita. Sekarang saya bisa bertanya balik, dan dia senang sekali.”
Awal perjalanan
Pak Herman bekerja sebagai pengemudi ojek daring. Ia berangkat sebelum subuh dan pulang setelah Rafi tidur. Selama bertahun-tahun, ibunya yang paling banyak berkomunikasi dengan Rafi. Saat Rafi masuk SMPLB, Pak Herman sadar ia tidak lagi mengerti cerita anaknya. Isyarat Rafi makin cepat dan makin banyak.
Pengalaman di sekolah
Di pertemuan orang tua, guru mengajak para ayah ikut kelas isyarat singkat setiap Sabtu pagi. Pak Herman datang dua kali, lalu tidak bisa lagi karena harus bekerja. Guru menyarankan cara lain: Rafi merekam tiga isyarat baru setiap malam di ponsel ayahnya.
Di sela antrean penumpang, Pak Herman memutar video itu dan menirukannya. Penumpang kadang heran melihatnya menggerakkan tangan sendirian.
Perubahan
Enam bulan kemudian, Pak Herman bisa bercakap sederhana dengan Rafi tentang sepak bola, makanan, dan teman-temannya. Pada hari Minggu, mereka menonton pertandingan bersama, dan Rafi menjelaskan aturan permainan dengan isyarat yang sabar.
Rafi juga lebih percaya diri. Ia mulai mengajak ayahnya ke kegiatan komunitas Tuli di dekat rumah, tempat ia bertemu remaja dan orang dewasa Tuli yang bekerja dan berkeluarga.
Pesan untuk orang tua lain
Kesibukan bukan alasan untuk berhenti belajar. Tiga isyarat sehari terdengar kecil, tetapi dalam setahun jumlahnya lebih dari seribu. Yang terpenting, anak melihat ayahnya berusaha memahami dunianya.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.