Panci yang jatuh dan bayi yang tetap tidur
“Hari itu saya sedih. Tapi sekarang saya tahu, yang paling saya takutkan bukan tuli, melainkan anak saya tidak punya bahasa.”
Awal perjalanan
Suatu sore, panci di dapur Bu Rina jatuh ke lantai keramik. Suaranya keras sekali. Kucing di teras sampai lari. Sekar, yang waktu itu berumur tujuh bulan, tetap tidur pulas di kasur dekat pintu dapur.
Awalnya Bu Rina bersyukur anaknya tidak rewel. Tetapi kejadian serupa terulang. Sekar tidak menoleh saat dipanggil, padahal ia selalu tersenyum bila melihat wajah ibunya. Di Posyandu, bidan menyarankan pemeriksaan pendengaran. Beberapa bulan kemudian, hasil BERA keluar: gangguan pendengaran sangat berat di kedua telinga.
Pengalaman di sekolah
Bu Rina datang ke SLB saat Sekar hampir berusia enam tahun. Ia sempat menunda karena berharap Sekar "nanti bisa bicara sendiri". Di kelas pertama, guru langsung berkomunikasi dengan Sekar lewat isyarat, gambar, dan gerak bibir yang jelas. Untuk pertama kalinya, Bu Rina melihat Sekar memperhatikan orang dewasa lain selain dirinya.
Guru menyarankan satu hal sederhana: ibu ikut belajar isyarat. Setiap pulang sekolah, Sekar mengajari ibunya satu isyarat baru.
Perubahan
Sekar kini duduk di kelas tiga. Ia bisa menceritakan kejadian di sekolah dengan isyarat yang lancar, menulis kalimat pendek, dan membaca buku cerita bergambar. Ia punya teman dekat, dan ia sering memarahi ibunya kalau isyaratnya salah.
Pesan untuk orang tua lain
Bu Rina sering berkata kepada orang tua baru: jangan menunggu. Waktu yang terlewat sebelum anak punya bahasa tidak bisa diulang. Isyarat, alat bantu dengar, dan latihan bicara bukan pilihan yang saling meniadakan. Yang penting anak bisa berkomunikasi sedini mungkin.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.