Menari mengikuti getaran lantai
“Saya tidak menyangka anak yang tidak mendengar musik bisa menari tepat di ketukannya.”
Awal perjalanan
Putri pemalu. Di acara keluarga, ia selalu duduk di pojok saat sepupunya berjoget. Bu Lestari mengira Putri tidak suka musik. Ia tidak pernah mengajaknya menari karena berpikir, "Untuk apa, dia kan tidak mendengar."
Pengalaman di sekolah
Dalam pelajaran persepsi bunyi dan irama, guru meminta anak-anak melepas sepatu dan meletakkan telapak tangan di lantai panggung kayu. Guru memukul gendang besar. Putri tertawa. Ia merasakan getarannya.
Pelan-pelan, Putri belajar membedakan ketukan cepat dan lambat, keras dan pelan. Guru memakai hitungan dengan jari dan lampu sebagai tanda. Saat sekolah menyiapkan tari kreasi untuk peringatan hari jadi, Putri meminta ikut.
Perubahan
Di hari pentas, Bu Lestari duduk di baris depan. Guru berdiri di samping panggung memberi hitungan dengan tangan. Putri menari bersama lima temannya, tepat mengikuti irama gendang yang ia rasakan dari lantai. Penonton bertepuk tangan sambil melambaikan kedua tangan, tepuk tangan dalam budaya Tuli.
Sejak itu Putri ikut ekstrakurikuler tari. Ia lebih berani berbicara di depan kelas dan mulai bercita-cita menjadi guru tari.
Pesan untuk orang tua lain
Jangan menutup pintu sebelum anak mencoba. Anak tunarungu bisa menikmati musik dan tari dengan caranya sendiri: lewat getaran, gerak, dan rasa.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.