Membeli roti sendiri di warung Bu Imah
“Saya mengikuti dari jauh seperti mata-mata. Waktu Sinta pulang membawa roti dan kembalian yang pas, saya hampir bersorak di jalan.”
Awal perjalanan
Sinta, tiga belas tahun, belum pernah memegang uang sendiri. Pak Rudi khawatir uangnya hilang atau Sinta ditipu. Setiap kali ke warung, Sinta hanya mengikuti ayahnya.
Pengalaman di sekolah
Di kelas, guru mengajak anak-anak bermain toko dengan uang sungguhan dan barang kemasan. Sinta belajar mencocokkan lembar uang dengan gambar barang yang bisa dibeli. Guru memakai strategi "satu lembar lebih": Sinta selalu membawa satu lembar uang yang pasti cukup, sehingga ia tidak perlu menghitung.
Guru lalu meminta Pak Rudi bekerja sama dengan pemilik warung dekat rumah. Pak Rudi menjelaskan kepada Bu Imah, pemilik warung, bahwa Sinta sedang belajar berbelanja.
Perubahan
Pada hari yang disepakati, Sinta berangkat dengan dompet kecil berisi selembar uang dan kartu bergambar roti. Pak Rudi mengikuti dari kejauhan. Sinta menunjuk roti, menyerahkan uang, menerima kembalian, memasukkannya ke dompet, dan berkata, "Terima kasih."
Kini Sinta membeli roti untuk sarapan keluarga setiap Sabtu. Ia mulai belajar membeli dua barang dengan daftar bergambar. Bu Imah juga ikut senang dan selalu menyapa Sinta dengan namanya.
Pesan untuk orang tua lain
Kemandirian tumbuh dari kesempatan yang aman. Libatkan tetangga dan pemilik warung. Lingkungan yang memahami anak membuat dunia anak lebih luas.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.