Map plastik biru berisi semua dokumen Danu
“Dulu saya takut ke kantor kelurahan. Sekarang saya yang mengantar ibu-ibu lain.”
Awal perjalanan
Bu Sumi berjualan nasi uduk setiap pagi untuk menghidupi Danu dan adiknya. Ia sering mendengar tentang bantuan pendidikan, tetapi tidak tahu cara mengurusnya. Dokumen keluarganya tercecer di beberapa tempat, dan nama Danu di akta berbeda satu huruf dengan nama di Kartu Keluarga.
Pengalaman di sekolah
Saat daftar ulang, petugas tata usaha sekolah melihat data Danu tidak cocok. Ia menjelaskan bahwa perbedaan itu bisa membuat bantuan tertahan, lalu menuliskan langkah-langkahnya di selembar kertas: perbaiki data di Dukcapil, perbarui KK, lalu sekolah memperbarui data di Dapodik.
Guru kelas juga memberi tahu bahwa Danu bisa diusulkan untuk menerima bantuan pendidikan, dan menunjukkan cara mengecek Kartu Penyandang Disabilitas lewat ponsel.
Perubahan
Butuh beberapa bulan dan beberapa kali bolak-balik. Bu Sumi membeli map plastik biru dan menyimpan semua dokumen di dalamnya: akta, KK, kartu BPJS, rapor, dan surat dokter. Setiap dokumen juga ia foto di ponselnya.
Kini data Danu sudah benar, dan bantuan pendidikan membantu membeli seragam dan ongkos angkot. Danu juga sudah terdaftar dalam data penyandang disabilitas. Bu Sumi sering diminta tetangga untuk menemani mengurus dokumen.
Pesan untuk orang tua lain
Mulailah dengan merapikan dokumen. Periksa apakah nama dan tanggal lahir anak sama di semua dokumen. Jangan ragu bertanya kepada bagian tata usaha sekolah. Mereka sudah sering membantu keluarga lain.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.