Kue lapis untuk bazar sekolah
“Hari itu Galang menghitung uang hasil jualannya berkali-kali. Ia bilang, 'Ini uangku, Bu. Aku yang buat kuenya.'”
Awal perjalanan
Galang, enam belas tahun, sering murung. Ia sadar adiknya yang lebih muda sudah bisa banyak hal yang belum bisa ia lakukan. Bu Fitri cemas memikirkan masa depannya. "Kalau saya sudah tidak ada, Galang bagaimana?"
Pengalaman di sekolah
Di kelas keterampilan, guru mengajari anak-anak membuat kue sederhana. Setiap langkah ditulis dan digambar di kartu resep: cuci tangan, timbang tepung, kocok telur, tuang adonan, kukus. Galang paling teliti menakar. Ia tidak mau melanjutkan sebelum timbangan menunjukkan angka yang tepat.
Menjelang bazar sekolah, kelas Galang mendapat tugas membuat kue lapis untuk dijual. Galang bertugas menakar bahan dan menata kue di kotak. Di hari bazar, ia juga belajar melayani pembeli dengan kalimat yang sudah dilatih: "Mau beli berapa?"
Perubahan
Kue buatan kelas Galang habis sebelum siang. Galang menerima bagian dari hasil penjualan, dan untuk pertama kalinya ia memegang uang yang ia hasilkan sendiri. Ia membelikan adiknya es krim.
Sejak itu Galang membantu ibunya membuat kue untuk pesanan arisan tetangga. Guru dan Bu Fitri mulai menyusun rencana magang di toko kue dekat rumah setelah Galang lulus.
Pesan untuk orang tua lain
Kemampuan kerja tumbuh dari tugas yang jelas, diulang dengan sabar, dan dihargai. Mulailah memberi anak tanggung jawab di rumah sejak dini. Pekerjaan memberi anak rasa berharga.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.