Alat bantu dengar yang disimpan di laci
“Saya kira Kevin keras kepala. Ternyata telinganya sakit karena cetakannya sudah kekecilan.”
Awal perjalanan
Kevin mendapat alat bantu dengar pertama di usia empat tahun. Keluarga menabung lama untuk membelinya. Awalnya Kevin mau memakainya. Setahun kemudian, setiap pagi ia mencabut alat itu dan menyembunyikannya. Bu Maya akhirnya menyimpannya di laci karena takut hilang.
Pengalaman di sekolah
Guru kelas memperhatikan Kevin sering memegangi telinga kirinya dan rewel setelah beberapa jam memakai alat. Ia menyarankan Bu Maya memeriksakan alat dan cetakan telinganya. Dokter THT dan audiolog menemukan dua hal: cetakan telinga sudah terlalu kecil karena telinga Kevin tumbuh, dan penyetelan alat perlu diperbarui sesuai hasil pemeriksaan baru.
Di sekolah, guru juga membuat "pemeriksaan pagi" sebagai kegiatan rutin. Setiap anak yang memakai alat bantu dengar mengecek baterai bersama guru, lalu menempelkan stiker di kartu harian.
Perubahan
Dengan cetakan baru, Kevin tidak lagi kesakitan. Ia mulai memakai alat sepanjang hari, termasuk di rumah. Kevin mulai menoleh saat bel sekolah berbunyi dan menikmati pelajaran persepsi bunyi dan irama dengan rebana. Ia tetap berisyarat, tetapi kini juga mencoba mengucapkan beberapa kata.
Pesan untuk orang tua lain
Bila anak menolak alat bantu dengar, cari tahu dulu sebabnya sebelum menyerah. Telinga anak terus tumbuh, dan alat perlu diperiksa ulang secara berkala.
Tokoh dan peristiwa dalam kisah ini rekaan, disusun dari pengalaman umum keluarga anak berkebutuhan khusus, bukan dari keluarga murid SLB Budi Daya.