Hari pertama yang penuh tangis
“Minggu pertama ia menangis setiap pagi. Guru mengizinkan saya menunggu di kelas, lalu pelan-pelan di teras. Bulan kedua ia melambaikan tangan sendiri.”
Awal perjalanan
Anak kami belum pernah berpisah dari saya. Ketika masuk TKLB, ia menangis sejak di gerbang sampai jam pulang. Saya pun ikut menangis di jalan pulang dan bertanya-tanya apakah kami terlalu cepat menyekolahkannya.
Yang kami alami di sekolah
Guru tidak memaksa. Minggu pertama saya diizinkan menunggu di dalam kelas, minggu berikutnya di dekat pintu, lalu pelan-pelan di teras. Guru memberi tahu jadwal hari itu lewat gambar, sehingga anak kami tahu kapan saya akan menjemput.
Perubahan yang kami lihat
Bulan kedua, untuk pertama kalinya ia melambaikan tangan sendiri di depan kelas. Sekarang ia berlari masuk dan bahkan lupa berpamitan. Di rumah ia menunjukkan gambar jadwal hariannya dan menceritakan siapa saja temannya.
Pesan untuk orang tua lain
Tangisan di minggu-minggu pertama itu wajar, untuk anak dan untuk kita. Bicarakan dengan guru, ikuti langkah yang pelan, dan percayakan prosesnya. Perpisahan yang dilakukan sedikit demi sedikit membuat anak merasa aman.
Cerita ini ditulis bersama orang tua dan ditampilkan dengan izinnya. Nama anak tidak disebutkan.