Kami sekeluarga ikut belajar bahasa isyarat
“Kelas isyarat untuk orang tua membuat makan malam kami ramai lagi. Adiknya bahkan lebih cepat hafal daripada kami.”
Awal perjalanan
Di rumah kami, makan malam dulu sering sepi. Anak sulung kami yang tunarungu hanya makan lalu masuk kamar, karena tidak bisa mengikuti obrolan kami. Kami mengira cukup berbicara pelan dan jelas, ternyata itu tidak cukup.
Yang kami alami di sekolah
Sekolah mengadakan kelas isyarat untuk orang tua. Awalnya saya datang sendiri, lalu suami ikut, dan akhirnya adiknya juga ingin ikut. Kami belajar isyarat sehari-hari: makan, minum, capek, senang, besok. Guru selalu mengingatkan bahwa yang penting bukan isyarat yang sempurna, tetapi mau mencoba.
Perubahan yang kami lihat
Sekarang makan malam kami ramai lagi. Anak kami bercerita tentang teman-temannya, dan adiknya dengan cepat menerjemahkan kalau kami ketinggalan. Adiknya bahkan lebih cepat hafal daripada kami. Anak kami tidak lagi buru-buru masuk kamar setelah makan.
Pesan untuk orang tua lain
Bahasa anak kita adalah bahasa keluarga juga. Tidak perlu menunggu mahir untuk mulai. Satu isyarat baru setiap hari sudah cukup untuk membuat anak merasa ia didengar di rumahnya sendiri.
Cerita ini ditulis bersama orang tua dan ditampilkan dengan izinnya. Nama anak tidak disebutkan.