Anak susah fokus di kelas: mungkinkah masalah pendengaran?
Gangguan pendengaran ringan sering dikira malas atau tidak memperhatikan. Begini cara mengenalinya.
"Anaknya pintar, tapi kalau dipanggil sering tidak dengar." "Kalau di kelas suka melamun." Kalimat seperti ini sering terdengar. Kadang penyebabnya memang perhatian. Tetapi Kementerian Kesehatan mengingatkan: anak yang tampak kurang fokus atau kesulitan belajar bisa saja mengalami gangguan pendengaran.
Gangguan pendengaran yang mudah terlewat
- Gangguan ringan: anak masih mendengar suara keras, tetapi kehilangan bunyi pelan seperti "s", "f", "t".
- Hanya satu telinga: anak terlihat mendengar, tetapi sulit menangkap suara dari sisi tertentu atau di tempat ramai.
- Cairan di telinga tengah: sering setelah pilek atau batuk, membuat pendengaran naik turun.
Di kelas yang ramai, anak-anak ini paling dirugikan. Mereka harus berusaha keras untuk mendengar, sehingga cepat lelah dan tampak tidak memperhatikan.
Tanda yang bisa diamati guru dan orang tua
- Lebih sering salah menangkap perintah, terutama bila tidak melihat wajah pembicara.
- Selalu melihat teman dulu sebelum mengerjakan perintah.
- Memiringkan kepala atau mendekat ke sumber suara.
- Ucapan kurang jelas, misalnya bunyi tertentu sering hilang.
- Lebih baik saat belajar satu lawan satu daripada di kelas.
- Sering mengeluh sakit telinga, telinga berair, atau berdenging.
- Menyalakan televisi atau ponsel lebih keras dari anggota keluarga lain.
Langkah yang bisa diambil
- Periksakan pendengaran ke Puskesmas, dokter anak, atau dokter THT. Jangan berhenti pada kesimpulan "anaknya malas".
- Sampaikan pengamatan guru kepada dokter.
- Sambil menunggu, minta anak duduk di depan, dekat guru, dan jauh dari jendela atau kipas yang bising.
- Bicara berhadapan, dengan wajah terlihat jelas, dan tulis perintah penting di papan.
Jaga pendengaran anak
Kementerian Kesehatan menganjurkan kebiasaan "mendengar aman": volume earphone paling tinggi sekitar 60 persen, dan tidak lebih dari 60 menit tanpa jeda. Ajarkan anak mengistirahatkan telinga.
Ingat: label "malas" atau "nakal" bisa melekat lama. Pastikan dulu pendengarannya baik sebelum menyimpulkan apa pun tentang anak.
Sumber
- Kementerian Kesehatan RI, Kemenkes Dorong Deteksi Dini dan Perilaku Mendengar Aman (Maret 2026): https://www.kemkes.go.id/id/kemenkes-dorong-deteksi-dini-dan-perilaku-mendengar-aman
Artikel ini berisi informasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh dokter atau tenaga kesehatan.